Harus Bagaimana Dengan Obsesi Ini?
Darahku terasa panas. Alirannya begitu deras. Mungkin jika dibiarkan akan mendidih dalam lingkup suhu di atas seratus derajat, lalu meluap dan tak bisa dihentikan. Sungguh siksaan menekan laju darah dan memberi instruksi pada syaraf otak untuk mendinginkan kepala dengan mengalirkan hawa dingin pada seluruh pembuluh darah. Sama sekali tidak membantu memulihkan emosiku. Tidak, setelah aku mendengar ocehan Risma.
“Iya tuh, Na…pas ke perpus tadi sempet ketemu sama Rheza. Ramah ya dia…coba kalo dia bukan brondong,…udah gue lahap sampai ga kesisa.”
Mendengar kalimat bernada iseng begitu membuatku jadi makin tersudut. Satu kata yang cukup menyentil dan menghancurkan eksistensi perwujudan perasaan cinta yang kumiliki untuk Rheza. Brondong. For god’s shake,…apanya yang salah dengan menyukai laki-laki yang 5 tahun lebih muda. Kenapa kata-kata ‘daun muda’ atau ‘brondong’ membuatku merasa jadi tante-tante kecentilan dan kurang perhatian.
Kembali ke inti masalah. Sebenarnya bukan itu yang membuatku kesal hari ini. Aku bahkan tak bisa memamerkan deretan gigiku yang rapi hanya karena aku masih belum rela bahwa di tengah-tengah kerinduanku akan sosok berwajah bening dan pemilik senyuman pembunuh, hanya Risma yang beruntung telah bertegur sapa dengannya. Risma yang sinis dan selalu mencundangiku dengan kata-kata penghinaan karena telah begitu terobsesi dengan daun muda.
Obsesi?
Baiklah, ini adalah pengakuan besar-besaran. Jangan harap aku mau menyebut kata-kata yang sering kali dikonotasikan sebagai suatu penyakit lebih dari sekali. Aku tidak akan dengan bangga menyebut ini suatu obsesi, tapi aku juga tidak malu mengakui aku sedang sangat mengharapkan atau mungkin lebih tepatnya menginginkan seseorang begitu dalam. Lihat bagaimana buruknya kondisiku hari ini. Aku tidak bersemangat untuk menyelesaikan administrasi kelulusanku. Semua itu karena aku sama sekali tidak berniat meninggalkan kampus ini, tidak jika di tempat inilah aku bisa menemukan oase jiwa yang terus aku pertanyakan kemana saja dalam lima tahun terakhir. Ironisnya, orang yang kuanggap penyejuk batin dan penguat semangat adalah sosok yang baru saja mentas dari kehidupan remaja dan baru sekitar enam bulan ini berlabel mahasiswa.
Silahkan saja tertawa, aku sendiri juga ingin sekali menertawakan diriku sendiri. Syukur-syukur aku mau insaf dan sadar bahwa sama sekali tidak bertanggung jawab kalau aku harus menangguhkan kelulusanku hanya supaya aku bisa melihat dan memandangi wajahnya lebih lama. Tapi toh percuma saja, meskipun terdengar lucu dan tidak masuk akal, nyatanya aku sudah melakukannya.
Ya, aku baru saja menunda rencana wisudaku yang seharusnya empat bulan lebih cepat. Seharusnya bisa saja aku langsung wisuda dan melenggang keluar kampus dengan elegan menyandang toga dan ijasah sambil tersenyum cerah mengucapkan selamat tinggal pada kerusuhan saat pengerjaan skripsi dan kegagalan proyek Tugas Akhir. Tapi alih-alih diwisuda sebagai Sarjana Teknik, aku malah memilih untuk mengarang alasan telah menghilangkan kartu mahasiswa. Aku tidak perlu menjelaskan bahwa dengan alasan itu aku bisa lebih lama mengurus proses administrasi dan membuka kesempatan untukku supaya lebih sering bertemu dengannya. Sampai hari ini aku terlambat menyadari pengorbananku untuk menunda kelulusan sama sekali tidak berarti apa-apa. Karena dewi fortuna tidak memberi acc pada obsesiku, entah ikut malu atau karena beliau masih berseteru dengan iblis penunggu ragaku. Yang jelas aku harus puas dan kenyang hanya dengan cerita Risma dan semua hinaannya.
“Capek deh gue liat lo yang mau-maunya mundur wisuda gara-gara brondong ga jelas kayak dia. Lu inget tuh lima tahun perjuangan lo…lima tahun tuh udah termasuk telat lulus…rela lu kalo lumutan disini?”
Aku terdiam. Ingin menangis rasanya. Bukan menangis menyesali lima tahun kuliahku, tapi menangisi satu-satunya sahabat dekatku ternyata tidak mendukung perasaanku.
“Kenapa sih lo mesti nyudutin gue. Gue suka sama dia juga bukan mau gue….gue cuma…”
“Lo cuma ga sengaja kena penyakit cinta gitu?”
Aku mendelik. Risma makin sadis berkomentar.
“Na trus apa yang udah lo lakuin buat ngobatin penyakit lo? Negur dia? Ngobrol bareng? Jalan bareng? Manaaa? Gue pengen tau coba.”
Kepala begitu berat. Mendadak ada seribu batu bata menimpa batok kepalaku. Luar biasa berat untuk menengadahkan wajah dengan sempurna. Hasilnya aku tertunduk serta merta sementara wajahku tertutup kedua telapak tanganku. Risma menghela napas. Sudah menduga jawaban dariku hanyalah gestur yang tidak jelas seperti ini.
“Lo tuh menyedihkan tau. Umur udah 23, tapi masih aja kayak anak es em a. Dalam itungan bulan lo juga udah bukan lagi mahasiswa. Udah jadi tante-tante buat bebrondongan macam Rheza.”
“Iya, gue tau. Udah puas lo ngatain gue?”
“Belom. Yang bikin lo tambah keliatan menyedihkan, lo sama sekali ga ngelakuin apa-apa. Lo ga pernah negur dia, ngajak ngobrol, ngajak jalan. Lu pasif. Bego ya lo, kenapa ga bisa manfaatin senioritas yang lo punya?”
Senioritas?
Harus bagaimana aku dengan statusku yang masih kakak tingkatnya? Aku suruh suruh dia? Aku libatkan dalam proyek tugas akhir? Atau sekalian kulibatkan jadi sopir? Entah Risma ataukah aku yang sedang kena amnesia, bahwa pada kenyataannya aku hanya berstatus senior baru dalam lima bulan terakhir. Dan lima bulan ini aku sudah khatam untuk urusan keribetan skripsi, ujian dan bersitegang dengan dosen. Jadinya aku nyaris tanpa status apa-apa buat dia. Karena secara akademik, selain urusan administrasi aku bukan lagi bagian dari kampus ini. Coba, senioritas macam apa yang bisa aku manfaatkan?
Aku sudahi adu uratku dengan Risma. Sebenarnya hanya Risma yang menonjolkan urat pita suaranya. Sedangkan aku, cuma bermodal tampang lesu dan tidak bersemangat. Dan tentu saja diluar kegigihanku untuk tetap menyimpan obsesi pada Rheza, aku tahu bahwa aku ini sudah kelewat bodoh. Tapi bagaimanapun aku begitu merindukan kehadiran Rheza. Parah sekali, obsesiku benar-benar sudah menjadi penyakit. Kronis malahan. Tak ada artinya aku berangkat pagi-pagi hari ini, kalau ternyata pemuda berambut tanggung nyaris gondrong itu sudah terlebih dahulu pergi dari kampus. Aku ingin melihat sekali lagi kilau senyumnya, tebal alisnya, kakinya yang panjang, kepalanya yang sering tertutup tudung jaketnya. Ya Tuhan, kenapa aku tidak dilahirkan lima tahun lebih lambat dari yang seharusnya.
“Ya udah deh, Ris. Gue ke bagian pendidikan dulu, ngurus administrasi.” Pamitku enggan. Risma kembali melihatku dengan pandangan mengasihani. Hal yang terakhir yang kuinginkan dari sahabatku adalah mengasihani aku. Kata-kata sinisnya sungguh tidak membantu apa-apa.
“Nena, lo coba pikirin masa depan lo, say. Lo udah bukan waktunya seneng-senengan buat main-main. Banyak cowok mapan yang bisa lo ajak serius. Lo lumayan cantik, pinter secara IPK lo diatas tiga koma, lo punya kualitas yang bisa bikin cowok mapan mau ngerelain waktunya buat lo. Ayolah…apa sih kelebihan Rheza selain tampangnya sama kemudaannya?”
Aku menggeleng pelan. Antara ingin mendengarkan dan tidak ingin mempermasalahkan. Tapi Risma tetap sahabat dekatku. Mungkin di tengah pikiranku yang tidak lagi sanggup berpikir matang, Risma hadir dengan cara berpikir yang wajar. Memang itulah seharusnya. Tapi sekarang aku sama sekali tidak ingin dipengaruhi. Aku ingin didengarkan. Aku tetap ingin dianggap manusiawi karena telah mencintai seseorang meskipun dengan caraku sendiri.
Aku tidak ingat apakah sejak tadi aku memakai pemberat pada sepatuku, atau bisa saja karena hujan semalam, jalan yang sedikit tergenang membuat langkahku semakin berat. Semuanya terdengar sama saja. Sama saja membuatku malas meneruskan aktivitasku. Tapi aku kira memang sudah tidak ada pilihan lain. Alasan apa lagi yang harus kubuat untuk menangguhkan kelulusanku. Kartu mahasiswa sudah di tangan, surat-surat administrasi sudah terkumpul rapi dan ditanda tangani yang berwenang, beberapa keterangan bebas lab dan semua fasilitas kampus sudah terstempel sesuai persyaratan. Keberuntunganku yang hampir nol urusan cinta membuatku sadar diri tidak ada artinya aku berada lebih lama hanya untuk menghirup udara yang sama dengan Rheza.
Aku hampir menginjakkan undakan tangga di ruangan administrasi saat beberapa mahasiswa berlarian melintas di sampingku. Aku masih berusaha menebak ada kehebohan apa sampai suatu ketika aku mendengar samara-samar suara :
“…laborat belakang, Si Dodi kolaps, gue inget dia tadi teriak-teriak, mau bikin si Rheza mampus katanya…”
Itu dia. Aku memang tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan pemuda yang tadi lewat disampingku. Tapi satu nama yang membuat alisku terangkat dan cukup ampuh membuat perhatianku teralih. Rheza.
Sekejap saja, sepatuku yang tadinya terasa berat mendadak ringan seperti telah dipasang sayap. Lariku seketika kencang dan ikut berbaur dengan mahasiswa-mahasiswa yang juga menuju laboratorium Perancangan Arsitektur yang ada di belakang gedung utama. Aku memastikan sekali lagi bahwa memang ada sesuatu yang sedang terjadi, keributan sepertinya. Sekuat tenaga aku berusaha menyelusup masuk dari kerumunan mahasiswa yang asyik menonton keributan.
Sekali lagi, aku berusaha mendekat dan jelas sudah peristiwa yang terjadi di hadapanku. Seorang laki-laki bertubuh besar mencengkram kerah rompi lawannya yang merupakan pemuda dengan postur lebih kecil. Laki-laki besar berambut plontos itu dalam waktu singkat menghajar pemuda yang tidak lain adalah Rheza. Entah karena perbedaan postur tubuh atau memang level kekuatan, Rheza terduduk lemas dengan kepala tertunduk. Punggung tangannya memegangi hidung yang baru saja dihantam.
“Mampus lo,…itu akibatnya lo macam-macam sama cewek gue. Sok kegantengan lo ngedeketin pacar orang.” Ejek laki-laki bertubuh besar. Nafasnya tersengal-sengal, mungkin karena ia baru aja melakukan suatu gerakan yang menguras seluruh tenaganya. Laki-laki itu kembali mencibir.
Dengan masih terduduk, Rheza menghapus darah yang keluar dari mulutnya. Matanya melirik tajam pada laki-laki besar itu. Sambil bangkit, mulutnya meludahkan darah yang bercampur dengan liurnya. Aku sadar aku baru saja menyaksikan keributan yang membuatku merasa ngeri. Beberapa mahasiswa berusaha melerai keduanya, tapi sepertinya kekuatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan pemuda plontos yang badannya lebih mirip atlit binaraga ketimbang mahasiswa. Gagal menghalangi si plontos, dua mahasiswa yang berusaha melerai terjengkang sempurna. Tanpa bisa dicegah, kembali si plontos menghajar Rheza. Kali ini Rheza berusaha menahan bogem dan menyentaknya. Sayangnya tindakan itu makin membuat si plontos tambah bernafsu untuk menghajar Rheza. Nyaris semua mahasiswa perempuan termasuk aku bergidik ngeri dan memalingkan pandangan, tidak tega menyaksikan penganiayaan terbesar sepanjang kurikulum kampus.
Aku kehabisan akal. Mendadak bertindak sok pahlawan dengan menghalangi laki-laki besar itu tampaknya bukan ide yang bagus. Sebelumnya, dua lelaki saja sudah gagal apalagi kekuatanku yang perempuan dan hanya satu orang.
BUG!
Tanpa melihatnyapun aku sudah yakin, Rheza kembali dihadiahi pukulan kepalan tangan si plontos. Aku terpaksa harus berpikir cepat. Aku lirik seorang mahasisiwi yang berdiri di sampingku. Iapun sama sepertiku, terlihat ngeri.
“Dik, emang ceweknya si plontos itu namanya siapa?” Tanyaku buru-buru. Mahasiswi itu tampak kebingungan dengan pertanyaanku yang sepertinya tidak tepat. Tapi toh dengan bingung ia menjawab juga.
“Santi, mbak. Anak Sipil semester 3″
Baiklah.
“ADA CEWEK YANG MAU LONCAT DARI GEDUNG PERKULIAHAN B. KAYAKNYA ITU SANTI, ANAK SIPIL SEMESTER TIGA.” Teriakku sekuat tenaga.
Mendadak suasana hening. Semua mata tertuju ke arahku, tidak terkecuali si plontos dan bahkan Rheza juga memandangku. DEG. Ya ampun tolong hentikan dulu debaran senang karena sukses menarik perhatian Rheza.
“Gue serius. Santi yang itu, dia nekat naik ke pembatas. Kalo ga dihentikan tuh cewek bisa mati bunuh diri.” Lanjutku berpura-pura pasang muka panik sepanik-paniknya. Suasana masih hening. Brengsek…tidak ada reaksi apa-apa. Jangan-jangan mahasiswi itu salah kasih informasi.
Tapi sepertinya informasi itu tidak salah. Terbukti si plontos melepaskan cengkramannya di kerah baju Rheza. Melirik ke arahku dan tanpa menunggu komando, ia sudah melesat secepat angin menuju Gedung Perkuliahan B. Adegan berikutnya, seperti laron merubungi lampu, mahasiswa-mahasiswa yang penasaran ikut membuntuti dan berlari menuju tempat yang sama. Ajaib, hanya menyisakan dua orang di tempat ini. Aku dan Rheza.
Tidak perlu canggung, aku melakukan ini murni karena ingin membantunya. Seruku dalam hati. Aku masih berdiri ditempatku semula. Memandangi sosoknya yang sedikit terhuyung dengan bercak darah di sekitar mulutnya. Ia menunduk mengambil tas dan menentengnya seperti biasa. Kemudian berjalan menjauhiku. Aku menghela napas kecewa. Setelah apa yang kulakukan ia tetap tidak menganggapku ada. Ya sudahlah…itu lebih baik daripada melihatnya dipukuli sampai babak belur. Pasti suatu hal yang berat buat dia selamat dari penganiayaan karena mulut besar seorang mahasiswi tua seperti aku, bukan karena kekuatannya. Lebih baik aku maklum atau aku akan menangis karena sikapnya yang acuh.
Aku baru saja akan berbalik meninggalkan tempat ini saat sebuah suara yang lembut dan belum pernah kudengar menghampiri telingaku.
“Thanks…”
Aku berbalik. Masih terdiam. Berharap setelah ini aku mendengar lagi kalimat lembut dari bibirnya. Tapi ternyata tidak. Rheza hanya mengucapkan terima kasih. Itupun wajahnya tidak terlihat senang dengan tindakanku. Aku mengangguk.
“Kamu tahu aku berbohong?”
Wajahnya menampakkan senyum sinis. Lalu tertawa.
“Tentu saja. Santi yang kamu maksud, hari ini tidak ada jadwal kuliah dan baru saja kami bicara di telpon.”
Sebaiknya mungkin ia tidak perlu menceritakan itu. Atau aku akan mendekatinya dan memarahinya agar tidak mendekati perempuan lain. Tapi ya ampun, entah darimana datangnya khayalan itu. Dalam hati aku menertawakan diriku sendiri. Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Sebagai gantinya aku hanya tersenyum-senyum tidak jelas dan memasukkan jari ke saku jeansku. Reaksiku sangat nanggung.
“Mau kemana?”
Aku menengadahkan kepala. Benarkah Rheza sedang bertanya padaku?
“Ke Bagian Administrasi.”
Aku sedikit menertawakan keanehan ini. Aku dan Rheza bicara dalam radius yang cukup jauh, lebh dari dua meter. Tapi masing-masing dari kami saling memperhatikan reaksi lawan. Aneh tapi menyenangkan.
“Urusan semester pendek?”
Aku menggeleng.
“Administrasi kelulusan.” Aku menunjuk map yang sedang kupegang. Entah apa ia paham bahwa isinya hanya sekumpulan arsip persyaratanku untuk lulus. Aku tidak peduli.
“Mau kutemani?”
Bruk! Map yang kupegang mendadak terlepas dari tanganku.

