Menulis Keroyokan

Dari dulu saya selalu amazed sama penulis yang sukses menelurkan buku (entah novel, atau non fiksi) secara keroyokan yang artinya ditulis dan berasal dari isi kepala yang mana beda pemiliknya. Koq bisa mereka punya waktu untuk dealing dengan ide cerita, konflik plus karakter tokoh yang mungkin masing-masing orang sangat beda persepsi. yang bikin saya salut, buku yang mereka tulis (biasanya dengan banyak tokoh sentral) seolah-olah ditulis oleh satu penulis saja. yah kalaupun ada perbedaan gaya tulisan itu lebih ke ciri khas saja, tapi perkembangan karakter dan konfliknya masih sangat nyambung. oke, ini cuma hasil akhirnya yang jelas dimuka. baidewei, eniwei…prosesnya kayak apa emangnya? Gimana sih penulis yang berbeda profesi dan kesibukan bisa menghasilkan ide menyatu dan mengeksekusi ide mereka secara rapi?

Sebenarnya tulisan ini lebih berkesan curhat aja sih, bukannya mau ngasi tips…terus terang biarpun saya udah baca beragam tips nulis secara rame-rame kok masih aja belum ketemu esensinya dan duileeeh susah bener itu pelaksanaannya.

Jadi kenapa saya jadi curhat ga penting gini, ya karena keroyokan nulis ini yang sedang berlangsung di tengah-tengah keinginan saya serius nulis. Awalnya ngobrol-ngobrol seru, nggosip ga penting soal kerjaan, pernikahan, cowok de es be es te de,…dari situ mulai ada ide untuk mengabadikan acara nggosip, jutek2an yang pernah kita alami bertahun-tahun lalu saat masih cupu. semuanya terasa normal karena keinginan itu ada supaya kita bisa menikmati bagaimana berkolaborasi sebelum nantinya benar-benar berpisah dan masing-masing sibuk dengan diri mereka. Mulai sebuah rencana pastinya diawali dengan semangat empat lima. tiba-tiba saja ide yg awalnya disambut dengan pesimis bisa begitu sangat menggugah selera. Teman yang awalnya jarang berkhayal tiba-tiba saja sudah mengeluarkan segudang uneg-uneg yang harus segera dicarikan wadah. YM dan email menjadi ajang komunikasi (maklum masing2 beda kota, dan facebook tidak bisa dijadikan ajang kontak karena salah satu bekerja di perusahaan yang notabene memblokir situs facebook).

Ide begitu membludak. outline siap dibikin, bahkan outline belum selesaipun kita sudah terlalu semangat mulai nulis dan mencuri start menulis bab 1 dan 2. mungkin bagus tapi kecepatan seseorang mengeksekusi ide benar-benar tidak bisa disamakan. akhirnya kita mentok sampai bab 2, karena salah seorang masih nyangkut dan mengaku tidak punya waktu untuk menulis akibat dikejar-kejar pekerjaan.

Baru ngeh beginilah tantangan menulis rame-rame. Egoisme tidak bisa dipakai. Terburu-buru juga bikin berantakan. Toleransi menjadi hal yang sangat umum. Setiap saat harus siap perubahan ide dan mood tiap penulis. Untungnya dari awal saya tidakberniat menjadikan ini tekanan. Selama kita masih bisa haha hihi, gosip sana sini via onlen, proyek keroyokan bisa jadi ajang rekreasi. Yang jelas, seru punya!

Niat diterbitkan? sepertinya masih jauh, bukan berarti tidak mungkin. dengan kondisi keseriusan yang masih dipertanyakan, bisa menyelesaikan novel dengan lancar tanpa baku hantam dan buang muka sana sini adalah suatu prestasi.

Minat Mencoba?

Comments (3)

ndywAgustus 6th, 2009 at 00:42

kalau ada minat/niat pasti bisa koq
:)

SamalonaAgustus 6th, 2009 at 00:56

Menarik. Terima kasih sudah berbagi cerita.

Saya pernah berkolaborasi dengan seorang teman baik, tapi bukan dalam bentuk menulis keroyokan. Dia memasok ide, sedangkan saya yang mengeksekusi dalam bentuk tulisan. Sambil jalan bisa saja dia, karena mengikuti proses penulisan saya, menemukan ide baru dan merevisi idenya yang sebelumnya, dan saya perlu merevisi tulisan saya juga. Buat saya itu pengalaman menarik. Bukannya saya tidak punya ide sendiri, tapi dalam pembagian tugas ini saya menikmati tugas saya yang lebih khusus meramu kata-kata, bahasa, dan penokohan.

Tentunya pengalamanku itu tidak bisa disamakan dengan menulis keroyokan, dan saya jadi kuatir komentar ini jadi OOT. :D

zachiraAgustus 6th, 2009 at 01:13

@ndyw : iyah pastinya….ini masih menggodok niat sambil jalan. tenkyu udah mampir ya..^^

@Samalona : mau OOT atau numpang narsis juga gapapa om, wkwkwk
…buatku pengalamannya masih nyambung kok. intinya, baik menulis keroyokan atau kolaborasi, adalah kita tidak sedang menjadi single fighter. jadinya proses menulis adalah pembelajaran juga, mengenal karakter penulisan partner, menggodok ide sampai penyesuaian gaya bercerita. melelahkan tapi juga penuh tantangan….sok teu d sayah ^^ Piss

Leave a comment

Your comment